Lagu-Lagu Greyson Chance

Selamat Datang Calon Pembaca Buku-Buku Gokil Gw

Sebelum Melihat-lihat Ruangan di Blog ini, Ada Baiknya Teman-Teman Membaca Terlebih Dahulu Peraturan di Blog ini. Trim's, :)

Jumat, 14 Agustus 2020

Tentang Idola

Hi ges, sebelumnya salam kenal buat kalian yang nggak sengaja nyasar masuk ke blog Anji, xixixi. Tapi, kalian nggak usah takut. Biar kata kalian nggak sengaja masuk ke blognya Anji, Anji kagak bakal Marah. Malah Anji Senang. Apalagi, kalo misalkan habis kalian nyasar ke blog Anji, terus kalian ceritain ke teman-teman kalian kalo kalian nyasar ke blognya Cowok Cakep. Terus teman-teman kalian pada Mampir semua dah ke blognya Anji, karna penasaran pengen lihat Cowok Cakep. Anji bakalan ngucapin Makasih Banyak banget ama kalian, karna kalian udah mau jujur ama teman-teman kalian tentang perjalanan kalian ketemu Cowok Cakep kayak Anji. Padahal biasanya kalian kan suka boong ama teman-teman kalian, wkwkwk. Anji cakep-cakep Narsis abis ya? tapi kalian tetap suka kan? sip dah, :)


Oke, selanjutnya Anji mo ceritain tentang foto yang ada diatas. Kalian pasti udah tahu dong kalo itu bukan foto Anji, hehe. Ya itu emang bukan foto Anji, tapi itu Fotonya Idolah Anji, yang udah Menginspirasi Anji hingga Anji Berani mencoba Menggali apa yang sebenarnya Anji bisa lakuin buat Berbagi ke orang Banyak. Anji akan coba Ceritain sedetail mungkin gimana awal mula Anji kenal dengan foto diatas, dan mengapa Dia Bisa Menginspirasi Hidup Anji Hingga saat ini. Gimana, udah siap kan baca Cerita Anji Selengkapnya..?

Oke kalo gitu kita Let's Go

Nah, ceritanya Anji kan Jalan-Jalan ke Kota Kecil tempat Anji Lahir dan Dibesarkan. Nama Kota Anji yaitu Pagar Alam. Kalo misalkan kalian mau tahu tentang kota Pagar Alam, cari aja di Mbah Gogel, pasti nongol deh, hehe. Biasanya Anji kalo jalan-jalan pasti nyari Toko yang Menjual Buku-Buku Bacaan, kebetulan di Kota Kecil tempat Anji ini kan belum ada Tobuk Kayak Gramedia gitu, makanya Anji kudu Nguber-Nguber semua Toko yang kira-kira jual Buku Bacaan *ribet juga yak, hehe.
Nah, pas Anji Muter-Muter itulah Anji akhirnya ketemu dengan Toko Buku Munyil yang menjual Berbagai Macam Buku. Akhirnya Masuklah Anji ke Tobuk tersebut. Pas Anji Lihat kiri kanan, Atas Bawah, disitu Anji melihat salah satu buku yang digantung diatas tembok. Karena penasaran, Anji ambil dah bukunya. Bukunya seperti yang kalian lihat disamping kanan ya Ges. Judulnya "The Journey Of Greyson Chance" Sengaja Fotonya Anji Gedein, biar Kalian bisa Baca dengan Jelas, siapa tahu kalian pengen beli Bukunya. Itu pun kalo masih ada ya, soalnya Buku itu udah lama banget sekitar tahun 2012 silam, hehe.

Begitu Anji sampe kerumah, malam harinya Tibalah Anji membaca Buku yang udah Anji Beli siangnya. Dan ternyata Ges, nggak sia-sia Anji Membeli Buku tersebut, karena ternyata Buku itu Menceritakan bagaimana perjalanan si Greyson ini Terkenal, hinggah menjadi Penyanyi yang dikenal banyak orang. Bahkan ternyata si Greyson ini, udah 2x Tour ke Indonesia lho. Dan katanya Dia paling suka dengan Negara Indonesia, saat Tour ke Negara-Negara bagian Asia. Makanya Dia mau datang untuk yang ke-2 kalinya.*Horee....! Makasih ya Greyson, udah Menyukai negara Tercinta Anji, hehe.

Nah, sekarang Anji mau ceritain gimana si Greyson ini bisa jadi Penyanyi Terkenal, apakah melalui Ajang Pencarian Bakat, ato gimana? Ternyata Dia Bisa Terkenal Berawal dari Youtube Ges. Dan itu sama sekali nggak direncanakan agar bisa terkenal. Tapi Video itu di Uplod ke Youtube karena Greyson ingin supaya Mama dan teman-temanya bisa melihat Dia saat tampil Nyanyi di sekolahnya saat ada pertunjukan Akhir Tahun di Sekolahnya. Itu doang sebenarnya Niat Awalnya. Tapi ternyata, saat Video itu di uplod ke Youtube, dalam waktu beberapa jam saja, Video itu telah berhasil Menarik Perhatian banyak Orang dan telah di tonton 10.000 kali. Hebat kan Ges..? Kenapa orang bisa tertarik menonton Video tersebut Ges..? karena Suara si Greyson ini memang sangat memikat, Suaranya Bagus Banget. Hal itulah yang membuat banyak orang untuk menonton Video tersebut. Untuk Membuktikan Suaranya Bagus beneran ato Tidak, kalian bisa tonton langsung Video nya seperti Diatas. Video itulah awal mula si Greyson bisa Dikenal banyak Orang.

Lalu Pada Tahun 2010, tepatnya tanggal 28 April 2010, Kedua Saudaranya Greyson yaitu Tanner dan Alexa punya gagasan yang sangat bagus, yang membuat nama Greyson makin dikenal banyak Orang dan pada Akhirnya Menjadi Penyanyi Terkenal. Gagasan tersebut adalah, kedua saudaranya mengirimkan video yang diatas itu ke Ellen DeGeneres. Ellen DeGeneres adalah Aktris Senior dan Pembawa Acara terkenal di Amerika. Dan pada tanggal.12 Mei 2010, Greyson diundang oleh Ellen DeGeneres ke acaranya yaitu Ellen DeGeneres Show. Itu juga yang membuat Greyson Akhirnya Diorbitkan oleh Ellen DeGeneres untuk menjadi Artis Pertamanya dengan nama Label Musiknya ElevenEleven. Kalian bisa lihat Videonya seperti diatas ya Ges.

Oke Terakhir Anji mau bagikan Biogafi Singkat si Greyson ya Ges.

Biogarafi Singkat Greyson:
Nama Lengkap: Greyson Michael Chance
Nama Panggilan: Greyson
Tanggal Lahir: 16 Agustus 1997
Tempat Lahir: Wichita Falls (Texas)
Kota Tempat Tinggal: Los Angelees
Bintang: Leo
Warna Rambut: Coklat Kemerahan
Warna mata: Cokelat
Tanda Lahir: Bintik-Bintik kecil di Wajah

Oke ges, segitu aja ya Biografi Singkatnya si Greyson, kalo mau lebih Jelas klian bisa Beli Buku Autografinya dengan Judul: 
 "Bocah Ajaib Bersuara Malaikat, Greyson Chance" disitu udah komplet semua dah tentang si Greyson ini. Biar kalian nggak salah Beli Bukunya, kalian bisa lihat Gambar Bukunya seperti diatas ini ya Ges?

Oke, Sekarang Anji mau Ceritain kenapa si Greyson ini bisa Menginspirasi Anji? Secara logika aja, Anji berpikir sesuatu yang dilakukan tanpa ada niatan yang serius aja bisa membawa si Greyson ini ke Arah yang Justru bisa Membuat Dia bisa menjadi Orang yang Sukses seperti sekarang. Apalagi kalo misalkan kita sudah merencanakan sesuatu itu secara Matang, Pastilah apa yang kita niatkan itu akan Terjadi sesuai yang kita inginkan. Asalkan kita Mau Kerja Keras, dan Sabar Menjalaninya.

Oke Ges, semoga Penjelasan singkat dari Anji ini bisa Dipahami, dan Pastinya Bermanfaat buat kalian yang Membacanya ya Ges..?

Terakhir sampai ketemu di Cerita Anji Selanjutnya, n By By, ^_~


Kamis, 13 Agustus 2020

Sehari Bisa Dapat Lebih Dari Lima Belas Ribu

Setelah beberapa hari aku menjalani profesi sebagai penonton bayaran, aku mulai diajak nonton ke beberapa acara di stasiun tv yang berbeda. Mulai dari pagi hingga malam hari. Stasiun tv tersebut, diantaranya adalah Trans7, SCTV, dan ANTV.


Pagi hari kami pergi ke Perdatam di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Disitu kami menonton acara “Ceplas-Ceplos” yang tayang di Trans7. Karena rutinitas kami di pagi hari sering mengikuti acara tersebut. Hal ini membuat kami jadi sangat akrab dengan artis-artis yang ada di acara itu. Seperti aku yang lama kelamaan jadi akrab dengan Bang Bopak Castelo, Bang Bedu, dan CK Jessika.


Yang membuat aku tambah senang, aku punya kenang-kenangan yang langsung aku dapat dari ketiga artis itu. Yaitu Kaos Oblong yang ada gambar beserta nama mereka masing-masing. Kalo dari Bang Bedu, bajunya sengaja dibagikan olehnya untuk semua penonton Ceplas-Ceplos, termasuk aku. Sementara dari Bang Bopak, dan CK Jessika, aku minta langsung dari orangnya saat ada waktu senggang untuk ngobrol bersama mereka.


Selain dari ketiga artis yang aku sebutkan tadi, ada lagi beberapa artis yang memeriahkan acara Ceplas-Ceplos. Seperti Ka’ Jesika Iskandar, Ka’ Wendy Cagur, Ka’ Vincent, Ka’ Deswita Maharani, Ka’ Ferry Maryadi, dan masih banyak lagi yang lain. Sebenarnya aku ingin sebutin semua artisnya. Tapi, aku udah lupa nama-nama artis yang lainya. Jadi, aku nggak bisa sebutin semua dech. Maaf ya teman-teman..? Hehe.


Yang jelas, semua artis yang main di acara Ceplas-Ceplos itu. Baik dan ramah semua. Disamping itu mereka juga pandai-pandai ngelawak, hal inilah yang membuat kami para penonton senang menyaksikan acara Ceplas-Ceplos.


Sehabis nonton acara Ceplas-Ceplos, kami pergi ke Kebon Jeruk, Jakarta Barat untuk menyaksikan acara Eat Bulaga di SCTV. Disana acaranya juga enak lho. Karena kami bisa bertemu dengan adik-adik dari berbagai Sekolah. Mulai dari SD sampai SMP. Karena di acara Eat Bulaga itu ada segmen Cepat-Tepat. Yang mempertandingkan tiga sekolah yang berbeda. Mereka dibagi menjadi tiga group. Group A, Group B, dan Group C. Setiap hari kami di gabungkan dengan sekolah dan Group yang berbeda-beda. Kadang Group A, Group B, dan Group C. Tugas kami adalah memberi semangat pada Group dan Sekolah yang kami dukung.


Disamping segmen Cepat-Tepat. Ada lagi beberapa segmen yang lain. Salah satunya segmen Barber Shop. Di segmen ini, hampir sama dengan segmen Cepat-Tepat. Pesertanya dibagi jadi tiga Group. Aku sangat senang menyaksikan segmen ini, soalnya pesertanya disuruh memotong rambut orang lain dengan berbagai macam bentuk. Kadang berbentuk benda, kadang juga berbentuk hewan.


Nah, di segmen ini aku punya cerita tentang dua temanku yang sama-sama penonton bayaran. Mereka berdua diikutsertakan jadi korban yang rambutnya di cukur sama peserta Barber Shop. Yang pertama namanya Heri, rambutnya dicukur seperti ikan Lele. Lalu habis dicukur itu mereka disuruh bergaya seperti ikan Lele lagi berenang, hehe. Terus yang kedua namanya Rio. Kalo yang ini beda lagi. Rambutnya dibentuk seperti Bintang. Pokoknya kalo ada segmen ini pasti ada kejutan-kejutan baru yang dibuat oleh host Eat Bulaga.


Dan yang harus kalian tahu adalah, mereka mau jadi korban peserta Barber Shop itu adalah atas dasar saran dari aku. Ceritanya, mereka kan baru pertama kali jadi penonton bayaran ikut aku. Nah, setelah beberapa hari ikut nonton bersama, aku tawarin mereka untuk ikut di segmen Barber Shop. Mereka pun setuju dengan saran itu. Tahu nggak kenapa?


Soalnya, habis dicukur. Mereka kan dapat duit dari peserta Barber Shop. Kalo nggak salah mereka dikasih dua sampai tiga ratus ribu. Jadi, wajar kan kalo mereka mau di tawarin ikut segmen itu. Dan yang pasti, aku sebagai teman yang nawarin nggak di marahin meski rambut mereka dibentuk bermacam-macam. Tapi, justru dapat traktiran makan gratis *ya iyalah, soalnya kalo nggak gw tonjok mereka berdua,xixixi 


Habis dari Eat Bulaga, kami lanjut ke ANTV di Epicentrum, Kuningan. Disini, kami nonton acara Campur-Campur. Kalo nggak salah pemainya sudah aku ceritain pas aku cerita tentang waktu pertama kali aku mencari tahu cara jadi penonton bayaran. Jadi, aku nggak perlu cerita panjang lebar lah tentang yang satu ini, ya nggak?


Yang pasti artis-artisnya asik-asik lho. Contohnya ka’ Yadi Sembako, waktu itu aku pernah nonton acara Campur-Campur ngantuk. Pas lagi Break, diam-diam ka’ Yadi nyamperin aku yang lagi ngantuk berat. Terus ka’ Yadi bangunin aku sambil nanyain aku tinggal dimana.


“De’, lu tinggal dimana sih? kayaknya ngantuk banget?”


Begitulah kira-kira pertanyaan yang diajukan oleh ka’ Yadi, saat memergoki aku yang lagi ngantuk.


Bahkan setelah beberapa tahun nggak ketemu denganku, ternyata ka’ Yadi masih aja ingat denganku. Sampai-sampai temanku pada bertanya padaku, kenapa ka’ Yadi sampai segitunya saat melihat aku. Aku hanya jawab dengan senyuman sambil Bernarsis ria kayak gini:


“Ya iyalah, ka’ Yadi segitunya melihat aku. Soalnya Penonton yang paling Kece dan Ganteng disini kan cuma aku, hehe” kataku sambil nyengir.


Teman-temanku malah pada hahu hahu semua, xixi. Tapi, biarin aja dari pada aku ceritain penyebab yang sebenarnya. Ntar dibilang sombong lagi. Iya kan?


Sebenarnya, ini bisa jadi bukti bahwa nggak semua artis sombong. Malah kalau aku boleh berpendapat, bisa jadi semua artis itu nggak sombong. Hanya saja waktu yang padat lah yang membuat mereka nggak bisa meluangkan waktu banyak untuk bercengkrama dengan kita. Itu sih kata aku yah? Bisa benar, bisa juga salah. Namanya juga pendapat, hehe.


Sampai disini, kalian pasti bertanya-tanya. Kok ceritanya nggak tuntas sih? Dari SCTV sedikit, Trans7 juga sedikit, ANTV apalagi. Begitu kan pertanyaan kalian?


Alasanya gampang. Dari judulnya saja kan kita sudah tahu, kalau aku cerita tentang penghasilanku sebagai penonton bayaran sehari itu bisa lebih dari lima belas ribu, yang aku dapat dari menonton beberapa acara. Ya itu tadi, dimulai dari Trans7, terus ke SCTV, dan terakhir ke ANTV. Nah dari hasil menonton dari ketiga tempat ini tadi, aku bisa mengantongi uang sampai Rp.45 ribu lho.


Kalau dibandingkan sama penonton kolingan cantik atau penonton inti kami biasa menyebutnya. Yang penghasilanya bisa mencapai Rp.50 ribu sampai Rp.100 ribu per hari. Aku akui pendapatanku memang masih dibawah mereka. Tapi, aku tetap bangga. Karena biar begitu aku jadi banyak pengalaman seperti yang aku bagikan ke kalian ini. Kalau mereka kan belum tentu ada yang menghasilkan tulisan seperti aku gini *Jiah, kayaknya kalimat ini sudah pernah aku bahas yak? xixixi.


Tapi, biarin aja ya? Soalnya bikin tulisan itu susah tahu. Kan lumayan buat menuhin tulisan, biar kelihatan pintar gitu, hehe.


Eh, ngomong-ngomong tentang penonton kolingan cantik. Dulu ada satu cewek yang juga kolingan cantik. Nah, dia cerita dengan kami para penonton bayaran. Kalau dia itu sudah jadi penonton bayaran lebih kurang lima tahun lamanya. Kalau di pikir-pikir pasti tu cewek sudah banyak pengalaman tentang hal menonton. Sayangnya, dia nggak mau jadi penulis seperti aku, hehe.


Pesannya singkat saja ya?


Kita bisa menambah penghasilan lebih dari yang biasa kita dapatkan. Asalkan kita mau berkorban waktu dan tenaga dengan tulus dan ikhlas. 


Pesanya cukup kan?  

Rabu, 12 Agustus 2020

Ternyata Aslinya Beda

Sebelum aku cerita panjang kali lebar, aku boleh kan nanya sesuatu dulu ama kalian? Ufs.., kalian nggak usah takut, aku nggak minta jawabanya kok. Aku cuma mau nanya-nanya aja tentang ketemu sang Idola. Nah, aku yakin kalian pasti pengen banget ketemu ama idolanya, iya kan? Terus selfie-selfie gitu ama idolanya. Betul nggak? Tapi maaf, pertanyaanya bukan itu, hehe. Pertanyaanya ada di dompet kalian, sori canda.com. Maksud aku ada di bawah ini.


Pernahkah kalian ketemu langsung ama idola kalian?


Aku yakin banyak sekali jawaban-jawaban yang berbeda diantara kalian, tentunya yang baca buku ini. Karna kalo nggak baca, gimana bisa tahu, hehe. Walaupun pertanyaanya nggak berbobot, semoga bisa buat kalian senang campur geer. Siapa tahu diantara kalian yang baca ini, ada yang udah pernah ketemu idolanya. Dan kalau memang itu benar terjadi, aku tahu gimana ekspresi kalian saat membaca soal di atas.  


“Aku pernah ketemu idolaku, pas ketemu aku langsung selfie deh bareng ama idolaku :)”


“Aku sih pengen banget ketemu ama idolaku, tapi bagaimana caranya ya?”


“Aku pernah ketemu idolaku, tapi sayang nggak bisa foto-foto, :p”


Aku yakin diantara kalian pasti ada yang jawabannya kayak gitu. Jadi, buat yang jawabannya sama kayak yang pertama, aku ucapin selamat ya udah selfie-selfie an bareng idolanya. Terus, buat yang jawabanya sama kayak yang kedua, dan ketiga aku cuma mau bilang Cucian dech lu, wkwkwkwk.


Ciee ngambek! Nggak pake manyun juga kali, aku kan cuman becanda. Kan baru intermezo. Namanya becanda ya harus gitu, ada yang disanjung, dan ada yang diledek. Ada yang diangkat, ada juga yang dijatuhin. Lagian masih untung dijatuhinya lewat candaan, coba kalau dijatuhin lewat apartemen lantai 120. Kan sakitnya minta amplop, hihihi.


Yaudah, sekarang aku mau serius ni cerita yang sesuai ama judulnya. Lagian, aku aja belum pernah tu selfie-selfie bareng idolaku. Walaupun aku udah sering melihatnya secara langsung di tempat shotting. Bukannya apa-apa, aku nggak bisa selfie bareng idolaku, karena waktu itu aku nggak punya handphone. kalaupun ada cuma bisa dipake buat nelpon, sms, ama main game doang. Jadi, kalian nggak usah berkecil hati yak?


Bicara soal ketemu langsung ama idola, sebagai penonton bayaran aku punya banyak cerita tentang artis-artis yang aku lihat langsung di beberapa acara di tivi. Sebagai bintang tamu di beberapa acara. Ternyata ada beberapa artis yang kalau dilihat langsung berbeda ama yang kita lihat di tivi. Tapi, nggak semua artis sih yang kayak gitu, hanya beberapa saja.


Kalian pasti pengen tahu kan, siapa saja artis yang pernah aku lihat secara langsung ternyata berbeda saat aku melihatnya di tivi? Cuma maaf ya kalo misalkan nggak semua artisnya aku sebutin, soalnya aku lupa-lupa ingat gitu siapa aja artisnya. Namanya juga cerita masa lalu, wajar kan kalo udah lupa-lupa dikit? *ngeles.com, xixixi 


Dan setelah aku timbang-timbang, sesuai dengan analisis yang cukup akurat. Aku memutuskan  ada dua nama artis yang masuk daftar di cerita ini. Keduanya adalah perempuan. Kalau dilihat dari sudut profesi, kedua artis ini sama-sama penyanyi. Tapi, kalau dilihat dari sudut gandre nya, yang satu penyanyi Dangdut, dan satu lagi penyanyi Pop. Terus kalau dilihat dari Usia, yang satu penyanyi tahun delapan puluh atau sembilan puluhan, dan yang satu lagi penyanyi tahun dua ribuan.


Baiklah, untuk mengobati rasa penasaran kalian, aku akan sebutin kedua artis itu satu persatu, sesuai dengan kronologis yang aku ingat. Seandainya ada yang aku lupa dan salah dikit-dikit, mohon dimaafkan, hehehe.


Pertama. Desy Ratnasari, di tahun sembilan puluhan, artis ini sempat terkenal lewat lagunya yang berjudul “Tenda Biru”. Yang perlu kalian  ketahui, meskipun aku sadar ini nggak penting-penting amat. Tapi, menurutku perlu karena gara-gara Tenda Biru ini aku jadi Terkenal sebagai Penyanyi Panggung Nikahan, hehe. Aku nyanyi lagu ini waktu pamanku nikah di tahun sembilan puluhan, waktu itu aku masih SD. Dan itu pertama kali aku berani nyanyi di atas panggung. 


Meskipun suaraku nggak sebagus penyanyi aslinya, namun hal ini cukup bersejarah bagiku. Sebab, setelah menyanyikan lagu itu, aku akhirnya jadi ketagihan untuk bernyanyi lagi di panggung saat ada sepupuku yang menikah. Tapi, setelah lagu Tenda Biru, aku tidak lagi menyanyikan lagu Pop. Aku selalu menyanyikan lagu Dangdut. Karena kalau nggak salah, di tahun sembilan puluhan itu lagu yang paling banyak digemari adalah lagu Dangdut. Meskipun banyak juga yang suka lagu Pop. Apalagi lagunya Pak H. Rhoma Irama, sering banget orang menyanyikan lagu Beliau. Bahkan, Pembawa acara Panggung Nikahan suka sekali niruin suaranya Pak H.Rhoma Irama. Aku sendiri pernah menyanyikan lagu Pak H.Rhoma Irama, judulnya “Syahdu”. Aku berduet dengan Biduan yang ada waktu itu. 


Hal ini cukup membuat ibuku bangga, melihat aku berani bernyanyi di panggung. Apalagi ayahku, saking bangganya beliau suka mengoleksi lagu-lagu yang ngetop kala itu. Agar kalau ada yang menikah lagi, ayahku bisa memilihkan lagu apa yang bagus aku nyanyikan. Kadang aku sendiri yang memilih lagu apa yang ingin aku nyanyikan di ats panggung nantinya.


Maka semenjak pertama kali aku bernyanyi diatas panggung, dengan lagu Tenda Baru itu. Banyak sekali lagu-lagu dangdut yang aku nyanyikan selanjutnya. Selain yang telah aku sebutkan di awal tadi, lagu-lagu lain yang pernah aku nyanyikan adalah “Janji” lagu yang dipopulerkan oleh Alm. Arafiq. “Terlena” lagu yang dipopulerkan oleh Ikke Nurjanah. “Siapa Kau” lagu yang dipopulerkan oleh Lilis Karlina. Dan masih banyak lagi lagu yang lainya.


Dan yang paling bersejarah lagi, waktu aku menyanyikan lagu “Janji” sepupuku mengabadikan ini lewat kameranya. Sayangnya fhoto itu hilang, hiks. Terus yang lebih Dahsyat lagi, waktu aku menyanyikan lagu “Siapa Kau” pamanku mengabadikannya lewat rekaman kaset Tape Recording. Ini yang paling membuat orang sekampung ku jadi heboh. Tapi, aku nggak kaset itu masih disimpan atau tidak, soalnya yang menyimpanya ya pamanku tadi. Sebab, selain aku, ada juga beberapa Biduan yang direkam juga pake kaset itu. Jadinya kayak Album Kompilasi gitu, hehe.


Walah, sekarang kok malah cerita tentang pengalamanku jadi Penyanyi Panggung Nikahan yak? hehe. Tapi, nggak apa-apa kan aku pamer sedikit tentang pengalamanku nyanyi diatas panggung. Kan lumayan buat nambah-nambah tulisan biar kelihatan Pintar gitu, xixixi


Yaudah, sekarang kita kembali ke Laptop. *Nggak apa-apa kan aku niruin Om Tukul Arwana? Lagian acaranya juga udah Bungkus,wkwkw. Maaf ya Om Tukul? ^_~


Jadi, begitu aku melihat Desy Ratnasari secara langsung. Mataku jadi pangling, karena ternyata aslinya Cantik banget. Tubuhnya lebih langsing, lebih imut. Padahal kalau dilihat dari tivi, Ia kelihatan gemukan udah gitu mukanya emang sesuai ama umurnya. Tapi, ternyata aslinya bedah sekian derajat, hehe.


Kedua. Uut Permatasari. Kalau artis yang ini kalian tahu kan terkenal ama goyangannya. Kalo nggak salah Goyang Patah-Patah. Terus lagunya yang paling hits adalah “Sinden Panggung” *Temen koreksi ya kalo aku salah, maklumin aja namanya juga manusia, hehe.


Kalau artis yang ini aku nggak punya sejarah apa-apa, aku cuma nggak nyangka aja kalau ternyata muka aslinya itu jauh berbeda saat melihatnya secara langsung dengan waktu melihatnya di tivi. Udah itu aja.


Nah dari cerita ini, aku suka bertanya ataupun berbagi sama teman sesama penonton dan kenalan baru, tentang hal ini. Beberapa diantaranya ada yang bilang, ini terjadi karena tipuan kamera. Hal inilah yang membuat artis yang kita lihat jadi berubah. Disamping itu, yang harus kalian ketahui juga adalah tentang panggung di studio. Ternyata itu juga merupakan hasil dari tipuan kamera.


Kalian pernah nonton kan Opera Van Java di Trans7, YKS (Yuk Keep Smile) di Trans Tv, dan Pesbukers di ANTV. Kalau kita lihat di tivi kan studionya kelihatan luas banget. Nah ternyata studionya itu nggak seluas yang kita lihat di tivi. Jarak antara panggung dan tempat para penonton itu hanya dibatasi oleh ruang kecil tempat cameraman mengambil gambar dan tim creative. Gimana, hebat kan cameramannya? Tepuk tangan donk untuk cameramannya.


Sebelum aku mengakhiri cerita ini, aku ingin berterima kasih sama Tante Desy Ratnasari, karena berkat lagunya yang berjudul “Tenda Biru” aku jadi ketagihan bernyanyi diatas panggung. Dan karena itu juga aku jadi terkenal dengan julukan Artis Panggung Pernikahan. Soalnya setiap ada yang nikahan di kampungku, bahkan di kampung sepupuku. Aku selalu ingin bernyanyi. Aku juga minta doanya, semoga aku benar-benar bisa menjadi Artis yang dikenal banyak orang. Meski bukan sebagai penyanyi, mungkin bisa jadi Aktor *Jiah, malah jadi Narsis, wkwkwk.  

Senin, 10 Agustus 2020

Ingin Jadi Penulis, Termotevasi Dari Seorang Bocah Berusia 5th Yang Terkena Cerebral Palsy (Cedera Otak)

 Hi Adik-Adik semua tau nggak, dulu kakak adalah anak yang paling pemalu terhadap semua orang. Baik sama teman sekolah, tetangga, maupun kerabat. Soalnya kakak merasa anak yang tercipta tidaklah sempurna seperti anak-anak seusia kakak. Belasan tahun kakak jadi anak yang minder terhadap siapa aja. Sering kali teman-teman berusaha menghibur, namun tak membuat rasa minder itu menjadi pudar.


Mungkin adik-adik ingin tahu kenapa kakak merasa minder pada semua orang? Hal ini disebabkan karena kakak mempunyai kepala Besar, yang lain dari pada yang lain. Sehingga kakak sering di ejek oleh teman-teman yang gak senang dengan kakak. Oleh sebab itu sipat minder menghinggapi diri kakak belasan tahun.

Hingga pada 08 Agustus 2008 silam, kakak melihat seorang anak yang menderita Cerebral Palsy (Cedera Otak). Waktu itu kakak nonton sebuah acara anak yaitu Idola Cilik 2, yang waktu itu sudah tahap 2. Saat itulah kak Oky Lukman selaku Host acara tersebut memperkenalkan seseorang yang sangat hobi menonton acara Idola Cilik. Mulai dari Idola Cilik 1 sampai pada Idola Cilik 2. Saat ia datang keatas panggung kak Oky mulai meneteskan air matanya, ternyata setelah kakak lihat tamu itu adalah seorang anak kecil yang menderita penyakit seperti yang kakak jelaskan tadi. Dan nama anak kecil itu adalah Dewantara Soepardi. Saat itu juga kakak pun tak kuasa menahan rasa sedih. Pertama kakak merasa kasihan melihat umurnya yang begitu muda. Kedua kakak merasa bersalah karena selama ini kakak tidak bersyukur atas apa yang telah Alloh berikan pada kakak.


Namun tak lama kemudian, kak Oky melihat hasil karya Dewa sebuah buku yang bercerita tentang keseharianya. Sayangnya saat itu kakak tidak menemukan buku itu di toko buku tempat kakak tinggal. Hingga pada 02 April 2010 kakak baru menemukan buku itu di salah satu toko buku yang ada di kota tempat kakak tinggal. Gambar diatas adalah Buku yang kakak Maksud. Saat itulah kakak mulai belajar untuk jadi penulis sama seperti Dewa. sejak pertama kali kakak melihat Dewa, kakak sudah menganggap dia sebagai adik kandung kakak. karena dialah yang telah memberi semangat pada kakak agar tidak jadi orang yang minder. terlebih setelah kakak membaca buku hasil karyanya, isinya sangat menyentuh sekali.

Saat ini (sekarang) kakak sedang menyelesaikan Naskah yang mengambil tema tentang keseharian kakak setelah menjadi Penonton Bayaran. Mulai dari saat kakak bekerja sebagai Penonton Bayaran, sampai pada kegiatan kakak disela-sela menunggu acara tempat kakak menjadi Penonton Bayaran berlangsung. Judulnya: The Diary Of  Penonton Bayaran

Pesan Kakak:
Mulai saat ini adik-adikku jangan pernah merasa minder akan hal apa pun juga, dan gali lah potensi yang ada pada diri adik masing-masing. Semoga pengalaman kakak ini bisa menjadi Inspirasi buat adik-adik semua, serta semoga Naskah yang sedang kakak garap bisa terbit, dan bisa dibaca oleh adik-adik nantinya.

Kakak Mohon Doa dari adik-adik...

Kamis, 06 Agustus 2020

Belajar Dari Ibu Pembawa Batu Kerikil

Setelah lama jadi penonton bayaran, aku mulai berpikir rasanya aku nggak akan mendapatkan apa-apa. Kecuali hanya uang Rp.20 ribu dari hasil menonton. Memang dibanding dengan awal pertama kali aku menjadi penonton bayaran, saat itu aku sudah mengalami peningkatan. Karena kami tidak lagi di bayar Rp.15 ribu. Akan tetapi perasaan jenuh sudah mulai menggelayut di hati, membuat aku tidak semangat lagi jadi penonton bayaran. Apalagi kalau ketemu teman atau orang-orang yang suka mengecilkan hati setelah mereka tahu kalau aku hanya bekerja jadi penonton bayaran. Maka rasa malu pun ikut menggelayut di hati.


“Oh jadi sehari-hari kamu jadi penonton bayaran? Kenapa nggak cari kerja yang lain aja?”


“Kalau jadi penonton bayaran mah, nggak bakal maju. Mending kamu cari kerja yang lain aja.”


Kira-kira seperti itulah kata-kata yang sering aku dapat dari orang-orang yang mengecilkan hati. Mungkin niat mereka baik untuk aku, walau kenyataannya mereka nggak bisa berbuat apa-apa untuk merubahku. Tapi, banyak juga yang mendukung dan mendoakanku.


“Nggak apa-apa sementara ini kamu jadi penonton bayaran, nanti juga Allah akan kasih jalan buat kamu. Kalau kamu mau bersabar.”


“Kamu nggak usah malu jadi penonton bayaran, dulu aku juga sama kayak kamu. Lama-lama ada yang nawarin kerjaan ke aku. Kamu yang sabar ya?”


Mendengar itu membuat hati ini terasa adem. Dan karena hari-hari aku makan dan minum memakai uang dari hasil menonton, aku mencoba untuk menahan semua rasa yang ada dalam hati ini. Kalau ada kata-kata negatif yang datang menerpa. Karena aku yakin diluar sana pasti ada orang yang jauh lebih susah dari aku, meski aku merasa seperti orang yang nggak bakal maju.


Tapi, meski setiap saat ada yang ngedoain agar aku harus tetap semangat dalam menggapai mimpi, tetap saja aku merasa minder ama orang-orang yang punya pekerjaan tetap, punya gaji bulanan, yang sering kutemui di busway saat mereka mau berangkat kerja.


Terus kenapa kamu nggak ngelamar kerja aja, biar sama kayak mereka?


Sebab mencari kerja itu nggak semudah yang dibayangkan teman, bahkan hanya untuk menjadi Waitres sekali pun. Tapi, aku akan tetap berusaha untuk berjuang di Kota Metropolitan ini demi menggapai mimpiku jadi Penulis, Aktor, dan Pengusaha, dan masih banyak lagi mimpi-mimpiku yang lain. Cuma ya itu, ternyata untuk meraihnya amat sangat susah ya?


Eh ngomong-ngomong aku udah cerita belum tentang cita-citaku yang banyak itu? Belum kan? Tapi, tunggu ntar aja ya aku ceritanya. Pas aku ngeluarin buku yang kedua aja. Kalau sekarang aku mau cerita tentang keseharianku jadi penonton bayaran dulu. Nggak apa-apa kan teman-teman? hehe.


Sekarang aku lanjutkan cerita yang tadi dulu oke?


Jadi, setiap aku nonton bawaannya bete mulu, rasanya pengen banget menerkam penonton yang lain, terus mencakar-cakar muka mereka. Sayangnya aku bukan Harimau, udah gitu mereka kan nggak salah apa-apa denganku. Jadi, ngapain aku nyakitin mereka, ntar yang ada aku malah masuk penjara. Terus nggak bisa lanjutin bikin buku ini deh, hehe.


Walaupun terkadang memang di studio itu, suka ada yang nyebelin lho. Mentang-mentang dia korlap, kerjanya ngomel mulu kayak burung beok. Yang lebih parah lagi, dia cowok tapi gayanya kayak cewek. Kerjanya ya itu tadi ngomel mulu. Mending kalau cakep, udah muka pas-pasan cerewet lagi *Lho, kok malah jadi ngatain orang yak? xixixi 


Yaudah, sekarang aku lanjut cerita lagi aja ya?


Rasa bete, jenuh, dan segala macam yang menggelayut di hati ini pun akhirnya dapat meredam, bahkan hilang bak ditelan bumi. Ketika aku mendengar cerita dari seorang ibu yang sehari-harinya mecahin batu di gunung, lalu membawa batu-batu yang udah jadi kerikil itu ke bawah.


Ceritanya, waktu itu aku nonton acara YKS (Yuk Keep Smile) di Transtv. Nah, suatu hari tim kreatif acara tersebut mengundang dua orang ibu untuk di wawancara di acara tersebut. Cuma aku lupa di segmen berapa, aku juga lupa ibu yang satunya lagi kerja sehari-harinya apa. Yang aku ingat cuma ibu pembawa batu kerikil itu doang.


Lalu tibalah ka’ Denny Cagur mewawancarai Ibu Pembawa Batu Kerikil itu.


Denny Cagur (DC): ‘“Selamat malam Ibu..?”


Ibu Pembawa Batu Kerikil (IPBK): “Iya selamat malam.”


DC: “Ibu sehari-harinya kerja apa?”


IPBK: “Ngangkutin batu dari Gunung ke bawah”


DC: “Maksutnya gimana itu Bu’?”


IPBK: “Diatas Gunung itu kan kami kerjanya mecahin batu, terus begitu udah jadi kerikil ya kami bawa turun dari Gunung itu”


DC: “Terus berapa uang yang ibu dapat dari hasil kerja seperti itu?”


IPBK: “Hasil dari kerja itu, biasanya kami mendapat upah sebesar Rp.20 ribu”


DC: “Rp.20 ribu itu, dapatnya per hari atau gimana bu?”


IPBK: “Iya, Rp.20 ribu itu kami dapat perhari”


Belum kelar percakapan antara ka’ Denny Cagur dengan ibu itu, aku sudah nggak bisa membendung air mata yang mulai bercucuran di pipiku. Sebab aku merasa bersalah sekali, merasa tak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan padaku. Gimana aku nggak merasa bersalah coba, ibu itu hari-harinya dihabiskan dengan memecahkan batu di atas gunung, lalu kemudian membawa pecahan batu tersebut kebawa. Bukan hanya rasa capek yang ibu itu rasakan, tapi juga panas terik matahari di siang hari. Bisa dibayangkan gimana susahnya ibu itu bekerja hanya untuk mendapatkan uang sebesar Rp.20 ribu? Sedang aku hanya duduk manis di kursi, udah gitu pakai AC. Kerjanya juga nggak berat, cuma tepuk tangan dan ketawa-ketawa doang kalau ada yang lucu. Bukanya jauh lebih gampang dibandingkan dengan ibu yang aku ceritakan tadi?


Maka semenjak dari situ, aku selalu berusaha untuk senantiasa bersyukur atas apa yang telah aku dapatkan. Meski hanya bekerja sebagai penonton bayaran. Lagi pula banyak sekali sebenarnya yang aku dapatkan semenjak jadi penonton bayaran. Selain uang Rp.20 ribu, aku juga bisa mengambil pelajaran dari orang-orang yang diwawancarai jadi bintang tamu di beberapa acara tivi. Contohnya ya kayak ibu yang aku ceritakan ini.


Emm.., ngomong-ngomong soal bintang tamu, kalau aku yang jadi bintang tamu dalam sebuah acara. Penontonya bakalan rame nggak ya? Yang jelas, semoga saja penontonnya nggak ada yang kabur di studio, hihihi.


Baiklah, daripada nanti aku kena timpuk orang-orang yang baca buku ini, mendingan aku sudahi saja cerita tentang ibu yang hebat ini. Yang penting isi dan pesannya sudah nyampe sama pembacanya, hehehe.


Pesannya adalah, sekecil apapun penghasilan yang kita dapatkan, harus tetap disyukuri. karena diluar sana masih banyak orang yang jauh lebih susah dari kita.  

Rabu, 05 Agustus 2020

Gara-Gara Pantun Di Eat Bulaga SCTV

Semenjak menjadi penonton bayaran, aku sama sekali tidak menceritakan ini dengan ibuku. Karena aku takut ibu bakal kecewa, masak habis kuliah bertahun-tahun malah jadi penonton bayaran. Maka dari itu aku merahasiakan pekerjaan ini serapat-rapat mungkin, agar ibu tidak kecewa denganku.

 

Terus kalo ibu bertanya aku kerja apa, gimana jawabnya?


Ya aku bilang aja, aku kerja di warung nasi atau nggak aku bilang masih kerja tempat dulu di penerbit buku. Kebetulan dulu aku memang kerja di salah satu penerbit buku yang cukup ternama. Jadi, aku nggak bohong kan? Toh kalaupun aku berbohong, kan tujuannya untuk menyenangkan hati ibu juga. Bukan untuk niat yang lain.


Alhamdulillah, ibu tak pernah tahu kalau sebenarnya semenjak April 2014 silam, aku berkecimpung di dunia hiburan dalam hal ini menjadi penonton bayaran. Dan seperti yang aku bilang di awal-awal, menjadi penonton bayaran memang cita-citaku sejak aku masih kuliah dulu. Meskipun cita-cita ini tidak aku tulis di buku mimpiku yang berjudul “My Dream” Karya Motivatorku sekaligus Orang tua angkatku yaitu Pa’ Bambang Prakoso. Toh pada kenyataanya cita-cita itu tercapai juga. Apalagi kalau mimpi-mimpiku yang lain bener-bener tertulis di buku mimpiku. Aku yakin suatu saat nanti satu persatu akan terwujud. Mohon doanya ya teman-teman?


Kalian mau tahu nggak, Mimpi-Mimpiku yang lain?


Tunggu nanti ya, habis aku menyelesaikan buku yang ini *promosi.com, xixixi 


Setelah sekian lama aku berkecimpung jadi penonton bayaran, lama-kelamaan keseharianku jadi penonton bayaran pun tercium oleh ibuku. Ini terjadi gara-gara aku di suruh pantun oleh ka’ Andhika Pratama untuk ka’ Narji Cagur waktu nonton acara Eat Bulaga di SCTV.


Waktu itu, ka’ Andhika memanggilku untuk turun ke bawah. Aku pun langsung turun dari atas tribun menuju tempat ka’ Andhika. Lalu ka’ Andhika pun bertanya sesuatu kepadaku.


“De’, kamu bisa pantun nggak?” Tanya ka’ Andhika


“Kalau ada contekanya, bisa kak” jawabku malu-malu


“Ya sudah, kalau begitu kakak bikin pantunnya dulu ya, nanti kamu pantun buat ka’ Narji Cagur diluar sana” sambung ka’ Andhika.


“Iya ka’” Jawabku lagi.


Lalu ka’ Andhika meminta waktu beberapa saat untuk menuliskan pantun itu di selembar kertas. Sedang aku berdiri di dekat cameraman yang siap menge shoot mukaku agar kelihatan di layar tv dan juga sama ka’ Narji di luar sana.


Tak lama kemudian, ka’ Andhika pun memberikan selembar kertas itu pada ku supaya aku bisa berpantun untuk ka’ Narji. By the way, kalian mau tahu nggak pantunya kayak apa? Ya sudah, biar kalian nggak penasaran. Pantunnya aku tulis di bawah ini. Mana tahu pantunnya berguna buat kalian ngatain teman-teman kalian yang lain, hehe.


Ini Pantunnya:


“Pak Aji Beli Duren

  Ditaruh Di Atas Panci

  Eh Narji, Lu Nggak Usah Sok Keren

  Muka Lu Kayak Korslet Banci”


Gimana, bagus kan pantunnya?


Sebenarnya, habis aku pantun itu ka’ Narji balas pantun buat ngatain aku juga. Terus aku dibantu ka’ Ivan Gunawan, buat nge balas pantunnya ka’ Narji lagi. Pokoknya jadi tambah seru dech acara berbalas pantun. Dan ini kali pertama aku nongol di tv sambil ngomong lho? *sombong.com, wkwkwk 


Tapi, aku nggak ingat pantunnya ka’ Narji dan ka’ Ivan kayak mana, soalnya ini kan acaranya udah lama banget. Kalo nggak salah sekitar tahun 2014 silam. Tu udah lama kan? Kalau kalian mau tahu pantunnya ka’ Narji Cagur dan ka’ Ivan Gunawan. Kalian tanya aja langsung ama orangnya yak? hahaha.


Setelah itu, ka’ Andhika pun ngasih aku sejumlah uang sebagai hadiah. Enak kan, udah masuk tv terus dapat uang pula, hehe.


Tapi, ternyata eh ternyata. Gara-gara aku pantun itu, ibuku di kampung malah jadi tahu, kalau aku ada di tv. Gara-garanya, pamanku di kampung cerita ke ibu kalau ia lihat aku masuk tv di acara Eat Bulaga itu. 


Sebentar. Tadi paman aku bilang ke ibu kalau aku masuk tv? Apa aku nggak salah dengar ya? Setahuku tv kan nggak ada pintunya, jadi gimana caranya aku bisa masuk tv, xixixi.


Sekarang kita lanjut ya?


Aku pun jadi takut, kalau ibu bakalan nyuruh aku pulang kampung, gara-gara tahu kalau ternyata aku di Jakarta jadi penonton bayaran. Jujur, saat itu aku jadi takut banget. Makanya setiap shalat aku selalu berdoa supaya ibu nggak marah dan nggak nyuruh aku pulang kampung. Pokoknya aku selalu berdoa tentang itu.


Akan tetapi apa yang terjadi? Kira-kira ada yang tahu nggak apa yang terjadi selanjutnya?


Ibuku ternyata malah, em ibu ma….! Aku malu nerusinya. Tapi, kalau nggak diterusin. Kalian pasti penasaran iya kan?


Baiklah, demi kalian akan aku terusin deh, apapun yang terjadi selanjutnya.


Jadi begini, gara-gara aku pantun waktu itu, ibuku malah nanya ke aku begini:


“Nak, emang benar kamu masuk tv, gara-gara jadi penonton bayaran?” kata ibuku nanya serius.


“Iya benar Buk” jawabku sambil gugub.


Terus ibu nanya lagi panjang lebar, membuat aku tambah …… Yaudah kalian baca lagi aja lanjutanya.


“Terus, di tv mana aja kamu nonton, nak? Ibu kan mau lihat juga?”


Mendengar itu aku jadi senang banget, karena ternyata ibu nggak marah meski aku jadi penonton bayaran. Terus dengan semangat aku kasih tahu ibu, dimana saja tempat aku menonton.


“Banyak Bu’, kadang di Transtv, kadang di Trans7, ANTV, dan SCTV”


“Oh, ya sudah nanti ibu akan lihat kamu di tv. Yang penting jaga kesehatanmu ya nak?” kata ibuku menutup percakapan.


“Iya Bu’, doain aja aku sehat terus disini” tutup ku di ujung telp.


Selanjutnya aku nggak takut lagi kasih tahu ibuku kalau aku lagi nonton di acara apa, tv mana kalau ibu telp aku. karena beliau nggak pernah melarangku untuk melakukan apa yang aku mau demi menggapai mimpiku.


Dan buku yang ada pada kalian ini, adalah hadiah sekaligus juga pembuktian buat ibuku. Kalau anaknya ini nggak cuma ngabisin waktu di studio saja, seperti teman-teman yang lain. Tapi, juga berusaha menghasilkan karya dalam hal ini tulisan atau buku. Agar apa yang aku kerjakan selama ini ada hasil yang positif.


Dan buat kalian diluar sana, kalian juga bisa kok memberi kejutan buat ibu kalian. Dari keahlian yang kalian miliki. Asalkan kalian mau menggali potensi yang ada dalam diri kalian, dan juga mau memperlihatkannya pada banyak orang, khususnya pada ibu. Supaya beliau tahu, kalau ternyata kalian adalah anak yang berbakat dan patut untuk dibanggakan olehnya.


Jadi, mulai sekarang ayo cari apa yang mau kalian berikan buat ngebahagiain ibu kalian. Jangan sia-siakan waktu yang terus berjalan.


Pesan yang bisa kita ambil dari sini adalah. Jangan takut memberi tahu apapun yang kita kerjakan pada orang tua kita, khususnya ibu. Selagi apa yang kita lakukan itu positif dan tidak merugikan orang banyak.


Senin, 03 Agustus 2020

Mengejar-Ngejar Korlap (Koordinator Lapangan)

Saat itu aku bener-bener ngebet pengen jadi penonton bayaran. Bukan karena menjadi penonton bayaran bakal mendapatkan uang saja. Tapi juga karena aku ingin agar ka’ Rian ngizinin aku pergi ke Jakarta meski nggak pulang beberapa hari. Oleh sebab itu, aku benar-benar bertekad agar hari itu juga bisa menjadi penonton bayaran.


Sekitar jam tujuh malam, aku berada di stasiun TV ANTV. Disitu aku menonton acara Campur-Campur, yang dipandu oleh ka’ Melani Ricardo beserta suami, ka’ Vincent, ka’ Yadi Sembako, Almarhum ka’ Budi Anduk, Almarhum ka’ Olga Syahputra, dan masih banyak lagi Artis-Artis lainya. *sengaja nggak di sebutin semua. Kalo disebutin semua takutnya pada nyariin aku, minta di bagi royalti buku ini, wkwkwkwk. Just Kidding ^_~


Waktu itu aku hanya berdiri di pojokan dekat pintu keluar. Karena niatku saat itu kan ingin cari tahu cara jadi penonton bayaran, bukan mau nonton acara Campur-Campur, hehe. Karena aku berdiri di sana lumayan lama, akhirnya salah satu crew ANTV mendekatiku sambil berkata.


“De’, kalo mau nonton masuk aja ke dalam, jangan berdiri di sini aja” katanya sambil tersenyum.


aku pun menjawab dengan senyum juga.


“Iya pak, nggak apa-apa aku di sini aja.”


Sekitar satu setengah jam aku berdiri di sana, belum juga mendapatkan apa yang aku inginkan. Disampingku ada seorang ibu kira-kira berumur lima puluh tahun ke atas memakai kaca mata. Sedang berbaring di atas sofa.


Sebenarnya, aku ingin sekali bertanya pada beliau tentang bagaimana caranya jadi penonton bayaran. Tapi, karena emang dasar aku orangnya pemalu, niat itu pun tak kunjung terungkap. Hingga ibu itu pergi meninggalkanku.


Lalu, beberapa menit kemudian. Datanglah seorang lelaki kemayu atau crew-crew tivi sering menyebutnya lelaki bertulang lunak *aku yakin kalian pasti tahu artinya, hehehe 


Maka kepadanya aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Karena melihat tingkahnya seperti perempuan, aku yakin dia salah satu penonton bayaran.


“Maaf Mas! Aku mau tanya, mas penonton bayaran ya?”


Ia pun menjawab dengan rama.


“Iya, emang kenapa?”


“Aku pengen jadi penonton bayaran kayak Mas” kataku menjelaskan maksud dan tujuanku.


Lalu Ia pun menjelaskan caranya dengan singkat.


“Yah, kamu harus menemui korlapnya dong”


Mendengar itu, aku balik nanya lagi untuk memperjelas maksudnya.


“Kalau boleh tahu, korlap itu apa, terus ciri-cirinya seperti apa??”


“Korlap itu artinya koordinator lapangan. Ibu yang duduk disini tadi salah satu orangnya”


Mendengar itu, aku bergumam dalam hati. ‘Ya, andai aku tahu kalau ibu itu salah satu koordinator lapangan, pasti aku akan minta tolong dengannya.’


Tapi, aku nggak putus asa, aku kembali bertanya dengannya.


“Mas, kalau boleh tahu, ibu yang tadi itu pergi kemana?”


Untungnya Dia orang yang baik. Jadi, Dia nggak pernah bosan menjawab pertanyaanku.


“Ibu tadi, biasanya duduk di teras depan. Mau bagiin nasi kotak”


Begitu mendengar jawabanya, aku langsung bergegas menemui ibu yang dimaksud karena takut kehilangan jejaknya. Tak lupa aku berterima kasih dengan orang itu.


“Yasudah, kalau begitu aku mau menemui ibu yang tadi. Makasih banyak ya mas atas infonya?”


“Iya sama-sama.”


Aku pun pergi meninggalkan orang tadi. Dan langsung menuju tempat yang dimaksud. Begitu sampai di depan. Aku melihat ibu yang tadi berada disampingku, sedang duduk di teras gedung ANTV dekat dengan tumpukan nasi kotak.


Dengan tekad yang kuat, aku memberanikan diri menemui ibu tadi dan langsung menyampaikan maksud dan tujuanku.


“Ibu’ maaf mengganggu! Kalau boleh, aku ingin jadi penonton bayaran. Kira-kira bisa nggak Bu’?”


Lalu Ibu itu langsung mengiyakan.


“Yasudah, kalau begitu besok kamu datang lagi aja kesini terus temui aku.”


Mendengar jawaban itu aku jadi senang banget, karena apa yang aku inginkan jadi kenyataan. Aku pun kembali bertanya dengan beliau.


“Bu’, besok aku temui ibu’ dimana, terus panggil ibu’ siapa?”


Dengan singkat dan padat, ibu itu pun menjawab.


“Besok, kamu temui aku disini. Panggil saja aku Oma, orang-orang disini biasa memanggilku Oma.”


Akhirnya sejak saat itu, aku resmi jadi penonton bayaran. Horeee... ! Setelah buku ini terbit, aku tidak lagi jadi penonton bayaran. Karena perbendaharaanku untuk berbagi pengalaman sudah sangat banyak. Jadi, waktu aku habiskan untuk menulis saja, agar bisa berbagi pengalaman sama kalian semua.


Buatku, menjadi penonton bayaran sungguh sangat menyenangkan. Karena aku jadi banyak pengalaman. Tapi, bukan berarti aku akan jadi penonton bayaran selamanya. Melainkan hanya menjadikannya sebagai batu loncatan saja untukku menggapai mimpi yang sesungguhnya. Yaitu Penulis dan Motivator di bidang menggapai mimpi.


Lalu, apakah aku juga punya keinginan untuk menjadi Artis? Seperti yang sering aku lihat sebagai seorang penonton bayaran. Dan ini adalah impian para penonton bayaran pada umumnya. Jawabannya Iya dan Tidak, :)


“Kok bisa gitu sih jawabannya, yang jelas donk jawabannya.”


“Lah, emang itu kurang jelas ya? Baiklah kalau begitu akan aku jelaskan sedetail mungkin. Oke? hehe”


Yang pertama. Jawabannya Iya. Kalau aku diberi kesempatan dan jalan oleh Allah untuk jadi Artis. Karena dalam buku mimpiku, menjadi artis berada pada posisi kedua diantara mimpi-mimpiku yang lain. Dalam hal ini adalah Aktor.

Yang kedua. Jawabanya Tidak. Kalau Allah tidak meridhoi mimpiku yang satu ini. Karena meskipun mimpiku jadi Artis/Aktor tidak terwujud sebab Allah tidak ridho. Aku kan masih punya banyak mimpi yang lain. Jadi, buat apa terlalu di prioritas kan cita-cita menjadi Artis. Intinya kalau Allah ridho, Alhamdulillah Syukur. Kalau Allah tidak ridho ya orak opo-opo, hehe.


Makanya, biar tidak pusing. Kita kudu banyak mimpi. Supaya, kalau yang satu tidak terwujud. Masih ada yang lain yang bisa kita coba gali agar bisa terwujud. Membuat mimpi kan gratis. Jadi, ngapain takut membuat mimpi sebanyak yang kita inginkan. Betul nggak coy? hehe.


Ufs….! Kok ceritanya jadi ke menong-menong ya? Kalian sih pake acara nanya segala. Jadi ceritanya mulai ngawur ni dari judulnya. Tapi, sayang juga ya kalau harus di hapus. kan lumayan buat nambah-nambahin tulisan, hehe.


Kalau boleh aku mengambil kesimpulan dari cerita ini. Sesusa apa pun halangan dan rintangan yang menghalangi kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Kalau kita sabar menjalaninya dan tetap semangat mengejarnya. Pasti akan kita dapatkan juga. Seperti kata pepatah Arab, yang pernah aku pelajari sewaktu di Pesantren dulu. Bunyinya seperti ini:


“Man Jadda Wajada” Yang Artinya “Barang Siapa Yang Bersungguh-Sungguh, Maka Dapatlah Ia.”


Maka dari itu, buat temen-temen dan adik-adik dimanapun berada. Jangan pernah menyerah untuk menggapai apa yang kita inginkan, ^_~